Pesan untuk pemuda Indonesia yang ingin studi di Luar Negeri

Studi di luar negeri menjadi cita-cita sebagian siswa dan mahasiswa Indonesia. Apalagi, era sosial media saat ini dimana informasi sudah sangat terbuka. Bahkan kita bisa melihat dan berkomunikasi langsung dengan orang yang baru di kenal. Salah satu sosial media yang sangat terkenal dan masih bertahan sampai saat ini adalah facebook. Platform facebook ini menarik, karena kita bisa berteman dan berbagi informasi secara mudah dan langsung kepada teman-teman kita.

Nah, melalui facebook itu juga biasanya orang yang menginginkan studi di luar negeri menggali informasi. Selain juga browsing-browsing untuk mendapatkan pendanaan untuk kesana. Kadang yang kita bayangkan saat studi di luar negeri kita bisa jalan-jalan kemana-mana. Tahukan anda, bahwa itu tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya salah. Tujuan studi ke luar negeri sama dengan tujuan studi di tanah air.

Anda akan disibukkan dengan kegiatan-kegiatan perkuliahan dari senin – jumat, tak jarang weekend pun masih di kampus untuk mengerjakan tugas atau melakukan eksperimen di laboratorium. Bahkan kalau di Jepang sangat jarang mahasiswa pulang ke rumah sebelum magrib, rata-rata pulangnya setelah isya atau bahkan dini hari karena harus mengerjakan tugas atau ngelab.

Nah, dari sini kita bisa mulai dengan meluruskan dulu niatnya. Kita luruskan niat bahwa kita belajar ke luar negeri dalam rangka menuntut ilmu. Bagi saya sebagai warga muslim tentu ini sesuai dengan tuntunan Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Belajarlah dari ayunan sampai ke liang lahat, artinya belajar itu tidak dibatasi ruang dan waktu.

Setelah niat, tentulah juga usaha. Apa saja yang perlu diusahakan untuk kuliah diluar negeri. Saya akan coba bahas satu persatu:

Persiapan Bahasa 

Bahasa adalah alat komunikasi, bayangkan kalau anda tidak bisa berkomunikasi bagaimana anda bisa hidup di luar negeri. Jangankan untuk hidup sehari-hari, untuk berkomunikasi dengan pembimbing atau orang dikelas juga sulit. Kalau dulu sekolah ke Jepang harus bisa bahasa Jepang, ke Jerman harus bisa bahasa Jerman atau tergantung pada bahasa negera tujuan. Tapi, saat ini sudah banyak yang menyediakan program berbahasa Inggris. Dalam hal ini saya batasi dulu bahasa yang perlu anda pelajari adalah bahasa Inggris.

Tips belajar bahasa Inggris selain ikut kursus anda bisa mengikuti diskusi-diskusi di kelas atau mengikuti seminar di Indonesia yang berbahasa Inggris. Kemudian dorong diri anda untuk berkomunikasi, bisa mulai dari berbicara sendiri dengan atau tanpa teks di depan kaca atau di kamar anda. Memang keliatan gila sih, tapi nanti anda akan menerima manfaatnya. Apalagi sekarang sudah mudah, presentasi aja di rumah kemudian rekam terus tonton sendiri rekaman presentasi kita, saya yakin cara ini ampuh.

Selain itu, belajarlah menulis dalam bahasa asing itu. Menulis disini bisa menulis email, menulis cerita, makalah atau apapun yang akan mendukung studi anda diluar negeri.

Latih Jiwa Adventure kalian 

Percayalah, keluar negeri itu ya sama kayak kalian jalan-jalan ke Bali. Pertama kali kalian jalan kesana pasti akan celingak-celinguk. Gunakan jiwa adventure anda, jangan cuman pengen tau satu tempat, kalau bisa sambil seminar ini jalan-jalanlah. Sebagai contoh, saat saya pergi ke Bali beberapa tahun lalu saat saya masih jadi mahasiswa S2 di IPB. Maka saya akan gunakan transportasi yang paling bisa menjangkau banyak tempat, kebetulan waktu itu saya bisa meminjam sepeda motor sepupu saya yang menikah dengan orang Bali.

Nah, bermodal kendaraan itu dan google maps yang saya cetak (waktu itu belum terlalu bagus) dan rambu-rambu di jalan. Saya bisa naik motor dari Tabanan sampai ke Kuta bahkan keliling-keliling Kuta dengan berkendara sepeda motor. Masuk satu gang keluar lagi, ya seperti orang kurang kerjaan. Tapi sampai hari ini kalau di lepas di Bali saya masih bisa membayangkan lokasi dan arah-arahnya tanpa menggunakan GPS. Hanya bermodal print out peta dan membaca rambu jalan.

Apakah ini juga bisa dipakai di luar negeri? Ya jelas bisa dong ya… Belajarlah teknik navigasi tapi dengan peta cetak jangan digital. Bayangkan kalau anda di luar negeri kan secara sinyal gak ada ya, masak kita mau diem aja di penginapan. Kalau di Jepang, bisa anda cetak peta untuk tempat-tempat yang akan dituju, catat jadwal bus dan apalin kanjinya, jaga-jaga gak ada bahasa Inggrisnya. Nah disini kemampuan bahasa tadi kepakai.

Ikut Exchange atau Seminar di Luar Negeri 

Ikut exchange keluar negeri membutuhkan persyaratan yang kadang tidak mudah dipenuhi. Syarat utamanya jelas TOEFL karena anda akan mewakili kampus untuk suatu kegiatan pertukaran pelajar. Banyak saya temui student di IPB ikut program AIMS yang merupakan program short stay di Tsukuba bagi mahasiswa ASEAN. Tentu tidak hanya ini, Tohoku University misalnya juga menawarkan program yang hampir sama. Intinya, carilah informasi mengenai exchange student.

Setelah dapat informasi, lihat dan tanya kakak kelas yang sudah kesana. Pasti mereka akan menyarankan: dik, persiapkan dengan karya-karya kalian. Kalian akan ditanya punya karya apa? dan tentu ini berkaitan dengan artikel saya https://supriliwa.wordpress.com/2017/11/22/ikut-kegiatan-kemahasiswaan-atau-menciptakan-kegiatan-selama-jadi-mahasiswa/.

Nah, sambil jalan cari juga kegiatan seminar internasional. Seminar internasional ini bisa di dalam negeri bisa juga di luar negeri. Intinya anda ikut dalam lingkungan akademik internasional. Kalau bisa presentasikan karya terbaik kalian disana, latihan beberapa kali di rumah atau di depan dosen untuk menambah kepercayaan diri dan pengetahuan kita. Sekali lagi latihan ini penting, kami disini mahasiswa Doktoral sebelum seminar di sebuah seminar nasional atau internasional paling tidak harus presentasi di depan dosen (sensei) minimal 2 sampai 5 kali. Belum lagi presentasi dirumah untuk melatih diri sendiri. Ya, kalau ada anak muda yang bilang saya sudah latihan 10 kali itu hal biasa, karena dengan berlatihlah anda bisa meningkatkan kemampuan anda.

Nah, setelah mengikuti seminar coba cari calon dosen yang prospektif disitu. Tentu anda cari seminar yang cocok dengan bidang anda dan anda liat dulu profil dari profesor tersebut. Kemudian coba siapkan pertanyaan yang terbaik kepada profesor tersebut sambil mempromosikan diri. Mempromosikannya tentu nanti setelah turun dari panggung. Biasanya ada sesi party, atau makan malam langsung dekati dan jangan lupa bawa kartu nama. Kenalkan diri anda dan mintalah kartu nama beliau. Tanya-tanya bagaimana perkuliahan di tempat beliau mengajar, sedang riset apa saja, dan kira-kira ada peluang masuk sebagai student atau tidak. Kalau ada dan positif langsung follow up lewat email, jangan lama-lama mumpung dia masih ingat bertemu dengan kita di seminar tersebut.

Kalau satu pembicara atau dosen kurang, coba manfaatkan waktu selama seminar itu untuk bertemu profesor lain. Kemukakan hal yang sama kepada beliau. Tunjukkan minat yang kuat kepada beliau. Oh iya, saya lupa pada saat ketemu itu siapkan juga bahan presentasi anda dalam bentuk poster (A4) saja dan cetakkan untuk beliau. Ini adalah bagian dari promosi apa yang anda lakukan.

Jadi saya simpulkan:

  1. Ikut exchange untuk mencari profesor, gunakan waktu yang ada untuk mengontak sana-sini profesor yang prospektif. Kalau exchange jangan lupa juga komunikasi dengan teman-teman Indonesia yang ada disana, kalau perlu minta dihubungkan.
  2. Ikut seminar internasional juga memaksimalkan komunikasi dengan calon profesor. Ya, jalan-jalan boleh tapi itu bukan tujuan utama.

Cari Beasiswa 

Mendaftar ke kampus tujuan itu sangat penting, tapi juga tidak kalah penting adalah beasiswa. Beasiswa bisa diperoleh melalu kampus tujuan atau melalui lembaga-lembaga pemberi beasiswa. Gunakan kuota gagal anda, coba lebih dari satu beberapa beasiswa. Insya Allah diantaranya banyak kegagalan yang akan anda hadapi akan ada beberapa yang sukses.

Itu hanya beberapa tips yang bisa saya bagi hari ini. Untuk tambahan kalau sempat akan saya posting kembali di Blog ini, atau kalau tidak sempat anda bisa berkomunikasi dengan saya. Bagaimana untuk memaksimalkan peluang anda untuk dapat studi keluar negeri. Atau paling tidak studi dalam negeri di kampus-kampus berstandar Internasional.

Tsukuba, 23 Januari 2018
Supriyanto
email : debasupriyanto@apps.ipb.ac.id