Belajar pertanian dari Liwa, Lampung Barat

Pertanian memang sudah tidak asing bagi saya. Sejak kecil saya hidup di keluarga petani. Almarhum ayah saya adalah seorang petani dan sampai saat ini ibu saya juga seorang petani. Orangtua ikut program transmigrasi pada tahun 1987 ke daerah Lahat kemudian pindah ke Liwa. Liwa adalah ibukota dari Kabupaten Lampung Barat. Kabupaten Lampung Barat mayoritas didiami oleh suku Lampung yang berada dalam satu kesatuan 4 kepaksian Skala Brak.

Yang menarik, topografi wilayahnya adalah perbukitan dan ada ditengah-tengahnya Gunung Pesagi. Gunung pesagi adalah gunung tertinggi di Lampung. Kab. Lampung Barat juta dikelilingi oleh Taman Nasional Bukit barisan selatan sehingga untuk pengembangan wilayah menjadi terbatas. Awalnya masyarakat Liwa menanam kopi, namun kemudian mereka membongkar kopinya untuk ditanami sayuran. Namun, ada beberapa lokasi yang tetap bertahan membudidayakan kopi.

Komoditas hortikultura yang ditanam diantaranya adalah cabai, sawi, kubis, buncis dan lain-lain. Model budidayanya juga bermacam-macam mulai dari monoculkultur dan tumpangsari. Model usahataninya juga ada yang digarap sendiri, ada sistem bagi hasil dan ada juga yang sistem kontrak kerja (harian). Gambar berikut adalah contoh tanaman cabai hibrida dengan mulsa plastik hitam perak sebagai penutup tanah. Mulsa ini fungsinya untuk menjaga kelembaban tanah dan terbebas dari gulma.

4695942325190

Untuk tanaman buncis umumnya masyarakat menggunakan Ajir, karena tanaman buncis adalah jenis tanaman merambat. Gambar berikut adalah contoh tanaman buncis yang ditanam di kebun petani.

4822334004903

Untuk tempat tinggal penggarap umumnya ada gubuk seperti tampak pada gambar diatas. Namun, saat ini banyak juga yang tinggal di rumah permanen dan gubuk ini hanya dijadikan tempat singgah saat bekerja saja.

Teknik budidaya lain adalah dengan menggunakan tumpang sari, teknik budidaya yang menggabungkan dua tau 3 komoditas pertanian sekaligus. Gambar berikut adalah contoh tanaman utamanya tomat dan tumpangsarinya sawi.

4899710299262

Permasalahan yang sering dihadapi petani dari waktu ke waktu diantaranya adalah serangan hama dan penyakit, kondisi cuaca yang tidak menentu, dan harga yang tidak stabil. Untuk kasus hama dan penyakit dan menyiasati kondisi cuaca petani umumnya mampu melakukannya. Namun, untuk urusan stabilisasi harga tidak semua petani mampu untuk melakukan prediksi.

Upaya peningkatan kemampuan petani juga kami coba lakukan, berawal dari tesis saya mengenai Sistem Konsultasi Online Agribisnis Cabai yang mengambil studi kasus di Liwa ini yang dibimbing oleh Prof Kudang Boro Seminar dan Almarhumah, Prof Sriani Sujiprihati dan Hendra Rahmawan, M.T. Sebagai penguji waktu itu adalah Dr. Ir. Widodo. Tahun 2013 kami bersama dengan petani mengadakan diskusi dan penyuluhan. Dari pertemuan itu lahirlah Komunitas Internet Petani Liwa (KIPL@) yang diinisiasi oleh beberapa petani terutama bapak Johan Maryanto. Gambar berikut adalah suasana diskusi yang dilakukan. Kegiatan ini juga berlanjut di tahun-tahun berikutnya, saya berperan sebagai dosen IPB dan juga sebagai warga yang berasal dari Liwa punya semangat untuk terus mengembangkan pertanian di Liwa.

4941489063705

Detail cerita lain akan saya ceritakan di lain kesempatan. Bagi yang berminat untuk kerjasama dalam pengembangan pertanian di Liwa dan beberapa kawasan di Indonesia silahkan kontak dan diskusi melalui kontak dibawah ini.

Salam,
Supriyanto
debasupriyanto@apps.ipb.ac.id