Transportasi menuju kampus IPB, sebuah harapan…

Kondisi Tranportasi di University of Tsukuba 

Kita bertanya-tanya apakah kampus di Jepang menyediakan bus kampus untuk berkeliling kampus. Kalau kita lihat University of Tsukuba, Jepang tempat kami kuliah, mereka tidak menyediakan bus namun tidaklah gratis. Bus ini sebenarnya hanya rute biasa yang dikelola oleh perusahaan bus yang terintegrasi dengan transportasi massal yang lain. Namun, untuk jalur University of Tsukuba dilayani oleh beberapa jalur seperti C10, 10, dan beberapa jalur lagi yang bersinggungan dengan kampus. Karena memang tidak ada angkot seperti di Dramaga, maka Bus ini menghubungkan terminal Tsukuba Senta melingkar ke kampus Universitas.

Untuk pelajar (student) diberikan diskon berupa langganan yang artinya tetap membayar. Apakah SPP nya murah disini, untuk program master dan doktor sekitar 250.000 yen atau sekitar 25 jutaan rupiah/semester. Nah, jika dibandingkan dengan SPP pascasarjana IPB tentulah lebih murah di IPB bukan?

25399036_10215232775361358_3145765427291405086_n

Untuk didalam kampus mahasiswa lebih menyukai jalan kaki atau bersepeda. Ya tentu dengan udara yang enak dan tidak terlalu panas moda transportasi ini menjadi pilihan menarik bagi mahasiswa.

Harapan untuk kampus IPB Dramaga

Kalau kita analogikan di IPB bus ini akan melalui Jalan Raya Dramaga, masuk ke dalam kampus untuk beberapa halte dan keluar melalui CIFOR tembus lagi ke bubulak. Juga arah sebaliknya, karena ada dua jenis bus yaitu searah jarum jam dan berlawanan jarum jam. Pada setiap halte terpampang jadwal bus yang sudah hampir pasti, jarang saya temui terlambat lebih dari 10 menit. Terlambat hanya terjadi karena kepadatan jalur atau waktu menurunkan dan menaikkan penumpang di halte sebelumnya.

Ide 1: memperbesar jalur Terminal Bubulak – CIFOR – IPB

Tentu jika ingin menerapkan moda transportasi ini khusus untuk ke kampus Dramaga, sangat efektif melalui belakang kampus menembus CIFOR. Tanpa harus merusak hutan yang ada, kita hanya butuh menghubungkan danau CIFOR ke kampus Dramaga dengan jalur 4 atau 6 lajur sehingga kampus IPB menjadi tampak lebih keren. Apakah ini bisa dicapai, tentulah kalau hanya dijadikan bahan diskusi tidak akan pernah tercapai. Tapi kalau mulai ada upaya perundingan antara pihak IPB, Pemerintah Daerah, dan pemerintah pusat hal ini akan mudah dicapai.

Ide 2: Percepat pembangunan Lingkar Dramaga 

Ini sebenarnya sudah lama digadang-gadang bisa sedikit memperbaiki kondisi lalu lintar Dramaga. Namun karena ada beberapa kendala sampai hari ini jalur ini belum juga rampung. Tentu perlu ada dorongan terus menerus, bahkan warga Dramaga sudah berharap sekali hadirnya jalur ini.

Ide 3: Mengembangkan transportasi berbasis rel

Jalur kereta berbasis rel merupakan moda transportasi yang sangat efektif mengangkut penumpang dalam jumlah besar. Kalaulah kita bisa hubungkan stasiun Leuwiliang tembus Dramaga-Cilebut misalnya. Tentu ini butuh kajian panjang, karena akan membutuhkan waktu dalam pengadaan lahan dan ivestasi.

Kesimpulan 

Tentulah solusi-solusi yang saya sampaikan ini sifatnya baru ide kasar. Mungkin pembaca memiliki ide yang lebih tajam dan solutif. Bagi saya sebenarnya, integrasi beberapa ide yang dieksekusi secara paralel akan lebih menguntungkan bagi dunia pendidikan kita terutama IPB sebagai World Class University. Karena saya sebenarnya semua sudah lelash dengan macetnya jalur menuju kampus IPB Dramaga. Kalau tidak kita yang memulai melalui pemikiran dan lobi-lobi ke berbagai pihak siapa lagi. Gunakan seluruh kemampuan, ide dan jaringan untuk mewujudkan transportasi menuju Dramaga yang lebih ramah terhadap penggunanya.

Salam,
Supriyanto
debasupriyanto@apps.ipb.ac.id