Kenapa dosen harus sekolah lagi (S3)

Sudah menjadi hal umum, sejak beberapa tahun yang lalu syarat menjadi dosen adalah harus lulus S2. Bahkan di ITB beberapa lowongan dosen harus bergelar S3. Pertanyaan selanjutnya kenapa musti S3? Pendidikan S1 umumnya mahasiswa dibekali dengan berbagai perkuliahan bahkan beberapa skill. Sarjana diharapkan memiliki kemampuan analisis dan pemecahan masalah. Sarjana diharapkan mampu bekerja sesuai bidangnya, tapi ini menurut saya anggapan yang juga belum pas. Sarjana bukanlah tempat mendidik lulusan yang langsung bisa bekerja. Tapi siap menerima tantangan pekerjaan, adaptif tentu dengan basic knowledge dan pengalaman yang dimiliki oleh sarjana tersebut.

 

Lain lagi pendidikan tingkat Magister, di Indonesia diberi pengetahuan yang lebih mendalam. Selain itu, tahap akhir dari pendidikan magister mahasiswa di dorong untuk membuat tesis serta mempublikasikan dalam publikasi ilmiah. Tentu, pada tahapan ini mahasiswa harus mampu melakukan sintesis terhadap permasalahan. Yang saya rasakan pada pendidikan magister kita diminta untuk memecahkan permasalahan yang lebih mendalam, bahkan di beberapa kuliah kita diminta untuk mengidentifikasi masalah dan memecahkannya. Yang saya rasakan adalah, kemampuan identifikasi masalah inilah yang lebih menonjol dari pendidikan S2.

Kemudian, setelah lulus S2 banyak diantara kita kemudian mendaftar menjadi dosen atau langsung melanjutkan studi S3. Studi S3 ini punya karakter yang agak berbeda dari dua strata sebelumnya. Pada tahap akhir seorang Doktor harus mampu mengemukakan metode baru dalam pemecahan masalah. Tentu mulai dari Identifikasi Masalah, Melihat penelitian terdahulu, memecahkan masalah dan menciptakan metode baru, melaporkan dalam bentuk karya ilmiah atau paten. Tentu karakter ini menjadikan pendidikan doktor menjadi berbeda dan diperlukan bagi seorang dosen.

Kita tahu bahwa tugas dosen itu seputer tridarma: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pendidikan tidak hanya mengajar di depan kelas, tapi juga mampu mengarahkan mahasiswa dalam proses pembimbingan. Pembimbingan baik akademik dan non akademik harus dilakukan dengan baik terlebih era sekarang yang kompetitif. Dosen harus lebih cerdas dalam kegiatan pendidikan.

Kegiatan penelitian adalah pencarian yang berulang-ulang untuk menemukan kebenaran dibutuhkan pengalaman yang baik. Program doktor memberikan pengalaman kepada kita untuk lebih mandiri dalam meneliti dan tajam dalam melakukan analisis serta mampu mendorong untuk penemuan metode baru.

Selanjutnya, pengabdian kepada masyarakat. Untuk skill yang satu ini diperlukan ketajaman dalam melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat. Selanjutnya mampu berdiskusi dan memecahkan permasalahan tersebut bersama dengan masyarakat sasaran. Tentu skill komunikasi dan kemampuan memproyeksi solusi diperlukan dalam hal ini.

Singkat kata, bahkan program Doktorpun belum mampu memenuhi kualifikasi sesungguhnya dari seorang dosen. Dosen diharapkan lebih, hal ini yang membuat kegiatan tridarma ini dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sehingga pada suatu titik, seorang dosen dapat dikatakan sebagai guru besar. Guru besar adalah pencapaian kriteria dalam tridarma yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

Tunggu apalagi, bagi dosen yang bergelar S2 termasuk saya untuk segera mencari program doktor yang sesuai dengan cita-cita masa depan anda. Cobalah berbagai program beasiswa dalam dan luar negeri. Tidak perlu takut gagal, karena kita juga sering memotivasi mahasiswa kan? untuk terus mencoba dan optimis dengan cita-cita kita. Tidak lain dan tidak bukan ini semua kita lakukan sebagai bagian dari dedikasi kita sebagi dosen.

Tsukuba, 03 Januari 2018
Supriyanto
email: debasupriyanto@apps.ipb.ac.id