Plant Factory : Indoor Vertical Farming, solusi masa depan untuk pemenuhan kebutuhan pangan

Pertumbuhan penduduk dunia selalu meningkat, hal ini memberikan sinyal bahwa kebutuhan pangan juga akan meningkat. Peningkatan ini terjadi kadang diluar prediksi kita semua. Selain itu, peningkatan kondisi ekonomi seseorang juga akan merubah gaya hidup dan kebutuhan jumlah pangan pun akan meningkat. Jika kita lihat Indonesia saat ini, tentu kita masih bisa melihat bahwa kebutuhan produk-produk segar sayuran, telur dan ayam masih melimpah. Hal ini karena lahan pertanian masih tersedia. Namun jika kita melihat kedepan, dimana konversi lahan pertanian mejadi industri dan perumahan atau properti lainnya juga sangat cepat. Maka perlu difikirkan untuk mengantisipasi hal ini kedepan.

*

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan membudidayakan produk pertanian terutama produk segar dengan Indoor Vertical Farming atau ada yang menyebutnya dengan Plant Factory using Artificial Light (PF AL). Nantinya budidaya tananaman akan dilakukan di rak-rak dengan menggunakan cahaya buatan. Cahaya buatan dapat bersumber dari lampu fluoroscent maupuan Light Emiting Diode (LED). Jika dilihat dari konsumsi energi LED lebih baik dibandingkan dengan fluoroscent. Cahaya buatan ini digunakan untuk kepentingan fotosintesis pengganti cahaya matahari.

Teknologi Greenhouse
Teknologi Greenhouse

Selain cahaya buatan ini, budidaya menggunakan sistem hidroponik. Sistem ini memanfaatkan aliran larutan nutrisi baik dengan sistem deep flow maupun teknik nutrient film. Bedanya pada kedalaman larutan nutrisi yang dialirkan pada sistem nutrient film aliran mengalir tipis, sementara pada deep flow lebih dalam. Larutan nutrisi dicampur dalam tanki larutan nutrisi dan dipompakan ke tanaman. Cara ini sudah banyak dilakukan di Indonesia dan sudah banyak yang meraup keuntungan dengan sistem hidroponik ini. Sementara itu, untuk kepentingan fotosintesis juga diperlukan CO2 yang diberikan secara terkontrol pada Plant Factory ini. Untuk itu diperlukan sistem monitoring dan kontrol yang presisi agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Negara yang sudah cukup maju dalam memanfaatkan plant factory ini adalah Jepang. Terlihat beberapa perusahaan swasta telah membudidayakan bekerjasama dengan institusi pendidikan. Tercatat sebanyak 34 PFAL pada maret 2009, 64 pada maret 2011, 106 pada maret 2012 dan 125 pada maret 2013. Sementara itu tanaman yang diproduksi pada plant production systems with artificial lighting (CPPS) dengan luas area 6,2 m2 dan telah digunakan secara komersial sejak 2014 di 300 lokasi di Jepang. Pada Maret 2014 digunakan sejumlah PFAL untuk kegiatan komersial sebanyak 165 dan diperkirakan sejumlah 200 pada akhir tahun 2014 serta terus meningkat pada tahun 2015. PFAL terdiri dari susunan bertingkat (4-15 rak) secara vertikal dan diberi jarak sekitar 40 cm.

Perusahaan-perusahan yang telah membudidayakan dengan sistem ini diantaranya adalah :

  1. Spread, Co., Ltd di Kyoto (http://spread.co.jp/)
  2. Mirai Co., Ltd (http://miraigroup.jp)

Nah, di IPB sendiri sebenarnya juga sudah banyak dikembangkan model budidaya ini. Namun belum sampai pada pengembangan Plant Factory dengan artificial light atau cahaya buatan. Bahkan di Departemen Teknik Mesin dan Biosistem telah diajarkan Teknologi Greenhouse dan Hidroponik secara khusus. Kita berharap riset-riset kedepan mendorong kita untuk mengembangkan model serupa yang cocok untuk Indonesia tentunya. Karena saya yakin, walaupun teknologi sudah ada namun perlu adaptasi dan pengembangan terus menerus agar bisa diterapkan di Indonesia. Tentu tidak bisa hanya satu unit di IPB saja, perlu ada kolaborasi antar unit agar teknologi ini dapat dieksplorasi dengan baik dan dapat dikembangkan.