Desa Keyongan, Kecamatan Nogosari, Kab. Boyolali disini saya lahir

Tempat saya lahir adalah sebuah desa kecil di pinggiran kota Solo, sekitar 15 menit (10 km) dari Bandara Adi Sumarmo. Kampung itu bernama Dukuh Sumurwaru, desa keyongan, kecamatan nogosari, kabupaten boyolali. Sumurwaru dikenal karena ada sebuah sumur di pinggiran desa yang disebelahnya ada pohon waru. Saya menduga sumur itulah yang digunakan oleh masyarakat desa pada zaman dahulu untuk mandi dan keperluan lainnya. Konon menurut cerita alm. bapak saya, dulu belum banyak yang mempunyai sumur. Bahkan pada masa muda bapak, beliaulah yang pertama kali memberanikan diri menggali sumur di dekat rumah. Dugaan saya, dulunya masyarakat berkumpul di sumur yang dekat pohon waru ini untuk mencari air.

Picture1

Kehidupan di desa ini dibilang cukup damai, waktu kecil datang kesini begitu ramai. Namun sekarang penduduk di dominasi orang tua (kakek dan nenek). Hal ini akibat adanya urbanisasi dan transmigrasi yang cukup besar dari desa ini. Alm bapak dan paman adalah contoh keluarga yang transmigrasi. Namun ada beberapa yang urbanisasi ke Jakarta. Fenomena ini tentu terjadi di kampung-kampung di Jawa. Jika dinilai sekilas, maka roda perekonomian masyarakat tidak banyak berkembang. Luas tanah garapan semakin menyempit karena hukum waris yang berlaku, serta keengganan kaum muda untuk terjun di pertanian terlihat jelas. Mereka lebih suka menjadi buruh pabrik atau pekerja di kota Solo, namun tetap tinggal di desa.

Picture4

Jika dilihat dari sisi insfrastuktur jalan dan jembatan tidak banyak berubah sejak 15 tahun yang lalu. Saya melihat kondisinya sama, masih tambal sulam. Saya pernah lahir disana dan hanya mencicipi 1 tahun sekolah di pendidikan dasar disana. Kalau kita lihat gap antara desa ini 15 tahun lalu dengan tempat kami tinggal di Liwa, Lampung Barat dilihat dari sisi perputaran perekonomian maka desa Keyongan lebih unggul. 15 tahun kemudian, Liwa yang notabene sangat jauh dari ibukota provinsi dari sisi perputaran ekonomi lebih baik dibanding desa ini. Tentu ini sedikit memberikan signal, bahwa jika ingin berkembang maka perlu ada tantangan dan waktu. Kerja keras terus menerus dengan penuh keyakinan kepada Allah akan merubah kondisi dan peradaban di suatu wilayah atau kawasan.

Terbukti sudah :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kamu sehingga mereka mengubah apa yang ada pada riri mereka sendiri (Q.S. Al Ra’d 13-11)”.

Namun demikian, dari sisi ketertiban, kebersihan, gotong royong dan kebersamaannya desa ini cukup kuat. Terbukti banyak infrastuktur yang dibangun secara swadaya oleh warga. Yang tentu ini sangat jarang saya temui di daerah lain. Warga secara bergotong royong memperbaiki jalan desa disokong dengan bantuan desa, sehingga menjamin jalan desa tidak becek alias sudah di cor. Disinilah kita dapat satu poin lagi dari pentingnya kebersamaan.

Jadi kalau disimpulkan, mana yang lebih baik tetap tinggal di desa atau transmigrasi atau urbanisasi. Saya kira tergantung pada kesempatan dan passion kita. Ketika kita memiliki passion sebagai perantau dan penjelajah maka merantau adalah pilihan terbaik. Sebaliknya, jika kita lebih menyukai zona nyaman maka tetaplah di desa dan bangunlah desa dengan ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Tentu modal ilmu kemasyarakatan jauh lebih diutamakan dibandingkan jalur akademik atau gelar.